Perjalanan di Tahun yang Lalu (bagian II)

0225b249-db22-4668-838f-6c2497c76bc0-1
Saya dan Kangmas di acara wisuda. Saya mengenakan jubah dan topi kebesaran para Doktor di A.S yang mirip  banget sama topi joker atau topi jester. Yah, sekali seumur hidup bolehlah…

 

Beuh, sudah lama banget ya saya nggak nulis blog. Sejak selesai ngajar di bulan Mei lalu dan pindah ke Jakarta di akhir Juli kayaknya ada aja kejadian yang bikin saya jadi males nulis (alesan… padahal emang males aja.)

Baeklah, sebelum kelewat basi, mari kita lanjutkan tulisan perjalanan di tahun yang lalu.

Mei 

Ini bulan yang bikin saya sakit perut, mules-mules, dan nggak bisa tidur. Alesannya apa lagi kalau bukan karena di bulan ini saya sidang S3. Setelah perjuangan nulis yang berkepanjangan (dan nggak bagus-bagus amat juga hasilnya), saya harus mempertanggungjawabkan tulisan saya dan menjelaskan penelitian saya selama dua tahun terakhir di Jakarta. Sebelum sidang, saya berterima kasih banget sama teman baik saya, Barb, yang dengan manisnya menyiapkan hidangan minum teh buat para penguji dan teman-teman saya yang datang ke acara sidang. Seperti biasa, Barb dengan cekatan membuat hidangan minum teh ala Inggris, lengkap dengan tiga jenis scones, lemon curd, raspberry jam, clotted cream, aneka macam teh, dan entah apa lagi. Saya sendiri sudah terlalu senewen dengan persiapan sidang buat bantuin Barb bikin semua makanan itu. Untungnya acara sidang berjalan lancar, dan anggota komite saya baik-baik banget. Kalau kata si Kangmas, mereka nggak ada yang nanya pertanyaan yang terlalu susah, kayaknya mereka pada pengen saya lolos (mungkin kasihan ngelihatin tampang grogi saya). Yah, pokoknya alhamdulillah semua berjalan lancar. Teman-teman saya yang baek-baek itu juga membuat terharu karena pada dateng buat mendukung saya. Padahal sidang S3 kan lumayan ngebosenin, ya? Kecuali mereka memang berminat banget sama penelitian saya, kayaknya mendingan ngabisin dua jam dengan tidur sore di rumah. Oh lupa bilang! Ibu Kangmas juga dateng nonton sidang saya. Halah, bikin tambah grogi aja! Lah wong Ibu saya sendiri aja nggak nonton, kok (–> mungkin karena Jakarta jauh dari Boulder).

Juni 

Saya dan Kangmas memutuskan buat tinggal bareng. Kami mulai mencari apartemen di bulan Mei setelah saya selesai sidang. Kebetulan kontrak sewa apartemen Kangmas habis di akhir Mei dan saya pun berminat buat keluar dari tempat saya kost. Walaupun saya sedih sekali karena akan berpisah dari Luna, si anjing manis manja, tapi saya dan Kangmas sudah siap buat memasuki tahap baru dalam hubungan kami. Di bulan ini juga saya mulai ribet nyari-nyari kerjaan. Ngelamar ke sana-sini dan selalu kesel kalau nggak dapet jawaban atau dipanggil wawancara tapi nggak dapet kerjaannya.

Juli

Bulan ini sebetulnya bulan yang menyenangkan sekali. Kangmas ngajak saya jalan-jalan menjelajah Colorado sebagai hadiah ulang tahun, dan kami berdua pun nyetir ke berbagai kota yang sungguh cantik. Sayangnya setelah pulang liburan, saya malah jadi sedih banget karena merasa gagal belum dapat kerjaan juga. Untungnya kira-kira seminggu sebelum bulan Juli berakhir, saya dipanggil wawancara di beberapa kampus dan kebanjiran tawaran kerjaan. Horee!! Saya pun mengiyakan semua tawaran itu dan jadi dosen di dua community colleges di Colorado. Yang satu kebetulan dekat banget dengan apartemen kami dan yang satunya lagi di pusat kota Denver. Di kedua institusi pendidikan ini saya kebagian ngajar kelas Public Speaking. Sebetulnya saya sempat grogi juga sih ngajar mata kuliah ini. Habis, masa iya saya ngajar murid-murid Amerika ini (yang bahasa Ibunya bahasa Inggris) tentang bagaimana berbicara di depan umum dalam bahasa Inggris. Sepertinya ada yang salah. Bener aja, di minggu-minggu pertama saya grogi banget. Cara ngajar saya pun jadi kaku. Belum lagi harus penyesuaian dengan murid-murid di sini yang memandang dosen sebagai setara, dan bukan sebagai sosok yang harus dihormati. Alhasil saya jadi merasa kurang layak dan nggak pede buat ngajarin mereka. Tapi si Kangmas emang baik hati. Dia bolak-balik meyakini saya kalau saya diperkerjakan karena saya punya kualifikasi (dan ilmu) buat mengajar mahasiswa-mahasiswa di sini. Menurut dia bahasa Inggris saya was-wes-wos banget, jadi nggak ada alasan buat saya minder. Sebetulnya memang itu semua cuma di masalah persepsi dan pemikiran kita, ya? Soalnya setelah saya mengenal murid-murid saya dengan baik (dan mulai bisa bercanda sambil ceng-ceng-an sama mereka), saya jadi menikmati banget ngajar kelas Public Speaking ini. Kalau ditotal, di semester pertama saya resmi jadi dosen saya ngajar enam kelas di dua kampus dan satu SMA (buat anak2 SMA yang pinter2 dan yang mau mengambil mata kuliah wajib supaya nanti pas kuliah mereka tinggal ngambil mata kuliah sesuai jurusan mereka). Daaaan, di semua kelas itu saya mengajar mata kuliah yang sama. Asli, saya berasa kayak kaset rusak.

Agustus 

Di bulan ini saya mulai ngajar dan membiasakan diri pindah-pindah lokasi dari pagi sampai malem buat ngajar di tiga tempat yang berbeda. Alhasil saya harus ngibrit dari satu kampus ke kampus yang lain (dan ke SMA yang jaraknya asli jauh dari tempat saya tinggal), supaya saya bisa tiba ke setiap kelas tepat waktu. Urusan tepat waktu ini emang bikin saya stress berat di awal-awal ngajar, karena saya takut banget telat, sementara kelas2 saya rata-rata back-to-back. Jadi kalau jalanan yang saya lewati tiba2 ditutup karena ada konstruksi, saya bisa langsung keringetan dan marah-marah luar biasa. Untungnya selama saya ngajar baru satu kali saya telat (itu pun nggak sampai 15 menit, dan saya sudah telepon sekolahnya untuk memberi tahu murid-murid di kelas) karena ada truk yang tiba-tiba ngalangin jalan. Sumpah, saat itu rasanya saya pengen turun dari mobil dan gedor-gedor truk segede bagong itu sambil marahin si supir truk bego yang bikin saya telat.

September

Nah, bulan yang berkesan nih! Di September, tepat setahun setelah bertemu pertama kali, kami sepakat untuk menikah. Keputusan menikah ini melalui diskusi yang menurut saya panjang (tapi kata Kangmas nggak karena sebetulnya dia sudah mikir mau ngajak saya nikah sejak kami memutuskan buat tinggal bersama). Taela Mas… kenapa nggak dari dulu ngomongnya! Oya, sebelum lupa, di bulan ini juga kami milih cincin sama-sama. Jadiii, ceritanya si Kangmas ini pengen milih cincin sendiri dan ngasih kejutan buat saya. Biasalah, lamaran romantis ala-ala pilem Hollywood. Tapi rencana doi sudah saya sabotase dari awal. Abis, si Kangmas ini punya selera yang rada-rada kelewat bling-bling buat saya. Masalahnya saya tuh nggak suka perhiasan yang minta banget buat dijambret. Ya iya kalau saya ke mana-mana selalu naik mobil sendiri (atau bahkan disupirin). Nah, kalau saya masih demen naik ojek di Jakarta atau naik bis sambung kereta listrik di Amerika, nggak salah kan kalau saya mencemaskan keselamatan diri sendiri? Jadi saya bilang aja sama dia, nggak ada cara deh kamu yang milih. Yang bakal makai cincin itu seumur hidup (Insya Allah), kan saya. Jadi saya harus punya suara dong buat milih cincin yang bakal saya pakai. Hehehe, maap ya Mas saya mensabotase rencana kamu.

(Bersambung ke bagian III)

 

Perjalanan di Tahun yang Lalu

Tulum Mexico
Pantai Tulum, Mexico, dengan reruntuhan kebudayaan Maya yang menghadap ke lautan Karibia. Letak tempat ini tidak jauh dari Playa del Carmen, tempat kami menginap. Foto ini saya ambil dari website ini.

Tahun 2015 adalah tahun yang sangat berkesan buat saya. Tahun yang menyenangkan, penuh kejutan, penuh perubahan, dan tahun yang melambangkan pencapaian, baik dari segi prestasi akademik maupun dari sisi hubungan personal. Sayangnya, bagi banyak teman dekat saya, 2015 bukanlah tahun yang menyenangkan. Suami salah satu sahabat terdekat saya kehilangan pekerjaannya di tahun itu, dan tak lama kemudian ayah sahabat saya wafat. Di saat teman lagi berduka, rasanya kok ya nggak pantas kalau saya bilang 2015 adalah tahun yang baik. Jadi saya diam saja ketika di akhir Desember lalu dia bilang dia ingin menendang 2015 jauh-jauh.

Karena saya ingin bersyukur dan nggak melupakan berbagai kejadian yang mengisi tahun 2015, lebih baik saya tulis saja di sini. Dengan begitu, kalau mood nostalgia sedang menyerang, saya bisa tinggal klik dan baca tulisan ini.

Januari

Tahun yang baru diisi dengan makan malam bersama di rumah Barb, sahabat yang sudah saya anggap sebagai keluarga di Boulder. Setiap malam tahun baru, Barb selalu membuka rumahnya untuk acara kumpul-kumpul (dan makan-makan, tentunya). Barb ini mantan chef di sebuah restoran di Wisconsin. Masakannya enak sekali, dan dari dia saya belajar memasak berbagai masakan favoritnya. Kalau kata Mella, sahabat saya yang lain, Barb ini meningatkan dia pada Ina Garten, chef favorit kami yang ngetop dengan acara Barefoot Contessa di Food Network.

Makan malam kali ini menjadi lebih spesial karena si Kangmas ikut bersama saya. Barb ingin kenal lebih dekat dengan si Kangmas dan ingin menyambutnya sebagai bagian dari “keluarga” karena dia tahu, hubungan kami meskipun baru berjalan beberapa bulan sudah mulai serius. Si Kangmas yang butuh waktu untuk merasa nyaman di antara orang banyak lumayan grogi malam itu. Tapi  berhubung pozole (sup khas Mexico) masakan Barb enak sekali, jadi dia fokus saja ke makanan dan rasa-rasanya setelah kenyang dia jadi lebih rileks. Hehehehe…

Februari

Di bulan ini, saya diajak Kangmas pergi ke Mexico, tepatnya ke Playa del Carmen, untuk hadir di acara rapat kantornya. Kantor tempat Kangmas bekerja memang suka bikin acara rapat di luar negeri. Judulnya rapat, tapi sebetulnya sih agendanya untuk menghibur para pekerja kantor dan pekerja lapangan. Karena “rapat” akan digelar di resort tempat kami menginap, saya mulai sibuk menghasut Kangmas untuk terbang lebih dulu dan menginap di luar resort selama beberapa hari.

Saya dan Kangmas ini punya filosofi jalan-jalan yang agak berbeda. Saya senang menginap di hotel-hotel butik atau losmen yang nyaman dengan rasa rumahan dan desain yang cantik, sementara si Kangmas senang menginap di resort yang all-in dan semua serba ada; makanan dan minuman bisa dipesan bebas selama 24 jam dan tempat rekreasi ada di dalam komplek resort. Intinya, sebagai tamu kita tidak perlu meninggalkan resort selama liburan karena semua hiburan bisa didapat di dalam resort.

Buat saya, konsep jalan-jalan ala Kangmas terasa sangat aneh asing karena kalau saya pergi ke suatu negara (atau tempat) yang baru, yang saya inginkan adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal. Saya mau makan di restoran yang disukai oleh penduduk lokal dan menginap di hotel kecil tempat saya bisa mengobrol dengan yang punya hotel dan para staff-nya untuk memperoleh tip-tip mengenai atraksi lokal yang menarik dan tempat makan yang enak dan murah.

Di Mexico saya belajar banyak tentang kebiasaan dan pandangan kami yang berbeda. Si Kangmas mulai menyesuaikan dengan kebiasaan dan kesenangan saya, dan saya pun mencoba membuka pemikiran saya dan mencicipi rasanya tinggal di resort dengan fasilitas serba ada. Kami tiba di Mexico tiga hari lebih cepat dari waktu yang ditentukan supaya saya dan Kangmas bisa menginap di hotel butik dekat pantai yang saya pilih. Agenda selama tiga hari dua malam itu adalah jalan-jalan menelusuri kota Playa del Carmen, memuaskan hati makan tacos al pastor yang rasanya uenak pol di restoran setempat, dan leyeh-leyeh di pantai umum bersama turis-turis lokal. Setelah tiga hari dua malam, kami pun pindah ke resort tempat Kangmas dan rekan-rekan kantornya (bersama dengan pasangan masing-masing) menginap.

Yang lucu, si Kangmas jadi sering ngomel-ngomel membandingkan pengalaman kami menginap di hotel butik dengan resort yang baru ini. Rupanya, dia sudah terlanjur terpikat dengan hotel butik yang saya pilih, dan menurutnya memang lebih enak menginap di hotel kecil ketimbang di hotel besar yang terasa kurang personal. Sementara saya baru tahu kalau di dalam resort ada mesin soft serve ice cream di bar dekat pantai. Alhasil selama dua malam kami tinggal di sana, saya makan es krim tiga kali sehari. Hahahaha…. Kata si Kangmas waktu kami siap-siap mau pulang, “Kamu yakin nggak mau bawa mesin es krim favoritmu itu ke Denver?” Ya kali, Mas… kalau bisa sih, saya mau!

Maret dan April

Saya gabungkan dua bulan ini karena saya benar-benar intens menulis disertasi di bulan Maret dan April. Lucunya, di bulan-bulan ini juga saya memulai blog ini dan mengisinya dengan berbagai cerita sehari-hari saya di Boulder. Aaah, the power of procrastination!

Sebetulnya, selain sibuk menulis disertasi, di bulan-bulan ini juga saya mulai dikenalkan oleh Kangmas kepada anak bungsunya, Brandon. Sebelum bertemu dengan saya, Kangmas sudah pernah menikah dengan seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya dan punya tiga anak. Ketiga anak itu sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Kangmas. Jadi meskipun dia sudah berpisah dengan mantan istrinya, Kangmas masih sering menemui mereka. Brandon usianya (saat itu) 18 tahun dan akan lulus SMA di bulan Mei. Waktu pertama kali bertemu dengan saya, dia terlihat sangat grogi (kok mirip dengan Bapaknya, ya?). Tapi setelah dua-tiga pertemuan, dia mulai terlihat santai dan senang bercanda. Si Kangmas ini sayang sekali sama Brandon, dan dia lega karena menurutnya Brandon suka dengan kepribadian saya. Lah, Mas nggak tahu? Saya kan pemalu, baik hati dan tidak sombong. Hihihihi…. (ketawa ala rumah bordil di film-film Cina tahun ‘80an).

(Bersambung)

 

Sepuluh Bulan Kemudian

 

IMG_0015 (1)
Saya dan teman-teman setelah selesai akad nikah di Hotel Wynn, Las Vegas, 17 Desember 2015. (Foto diambil oleh si Kangmas)

Wah, nggak kerasa sudah sepuluh bulan saya nggak nulis blog. Ketahuan banget kalau setelah lulus kuliah kerjaan saya kebanyakan cuma nonton tv dan masuk dapur! Jujurnya, saya tertarik nulis blog bukan karena saya hobi curhat di dunia maya, tapi karena saya butuh pengalihan dari nulis disertasi. Dulu, waktu jaman-jamannya saya harus nyelesaiin disertasi, kayaknya semua kegiatan selalu jauuh lebih menarik daripada duduk di depan komputer dan nulis tentang penelitian saya. Tiap kali mau nulis tentang isu HIV/AIDS di Indonesia, yang muncul malah ide untuk nulis blog. Makanya di bulan-bulan Maret-April tahun lalu mendadak saya jadi sering posting cerita-cerita nggak penting.

Ternyata, setelah disertasi selesai dan sidang juga sudah dilalui, saya malah sibuk pindahan (dan berpisah dari Luna, hiks!), nyari kerja, dapet kerja (hore!), ngajar enam (iya, enam!) kelas di dua kampus berbeda, dan… eng-ing-eng, dilamar sama si Kangmas yang dilanjutkan dengan menikah di Las Vegas bulan Desember lalu. Balik dari Las Vegas, semester musim semi mulai di bulan Januari. Tahu-tahu, sekarang sudah akhir Februari. Wah, kayaknya saya baru menutup mata satu detik, waktu buka mata sudah sepuluh bulan berlalu. Di tulisan-tulisan berikutnya, saya akan cerita tentang masa-masa perjuangan cari kerja dan juga persiapan pernikahan. Tapi untuk hari ini, sekian dulu ya, cerita saya.

 

 

Eh, Saya Dipeluk!

"The University of Colorado football team takes on the Hawai'i Rainbow Warriors at Folsom Field in Boulder on Sept. 20, 2014. "
Tim Football CU (Foto diambil dari Denver Post)

Tadi malem di sesi tutoring saya seneng karena salah satu murid les tiba-tiba nyamperin dan meluk saya. Aih, nggak nyangka kalau dia merasa cukup nyaman dan nggak grogi meluk guru lesnya yang nyebelin dan belum mandi ini. Si D anaknya emang asik buat diajakin bercanda, dan setiap sesi tutoring kami selalu nyempetin buat saling cela-celaan dulu sebelum mulai belajar. Rupanya setelah satu minggu Spring Break, dia agak kangen juga sama guru les-nya yang tua banget ini. Hhh, tapi emang ya, menurut anak-anak umur 18-22 tahun, siapa pun yang umurnya di atas 25 itu tua! Berhubung umur saya 35, kata dia saya tua banget.

***

Eh, tapi sebelum cerita tentang murid-murid saya, biar nggak bingung saya kasih tahu dulu alasan kenapa saya bisa ngelesin mereka, ya. Jadi gini, sejak balik ke kampus di awal September lalu, sebetulnya saya sudah kehabisan jatah ngajar dari kampus. (Lagian salah siapa juga, kuliah yang harusnya cuma empat tahun molor jadi enam tahun?) Untung saya dapat beasiswa buat nulis disertasi dari F*rd Foundation. Buat nutup biaya hidup, pembimbing saya ngasih saya kerjaan jadi asisten penelitian dia dengan honor yang lumayan buat bayar biaya kost selama 9 bulan. Nah, buat makan, jalan-jalan dan bayar tagihan endebra-endebra gimana dong? Sebetulnya saya sempet jiper juga mesti balik ke CU (University of Colorado, Boulder) di saat duit di dompet tiris, masalahnya kalau saya nggak balik, saya tahu kuliah saya nggak bakalan kelar. Masa iya mau jadi drop-out PhD? Kok kayaknya nggak ada keren-kerennya… lagian sudah tinggal dikit lagi lulus, mending diniatin dan diselesaiin.

Untungnya, di saat saya lagi siap-siap balik ke Colorado, sekretaris di jurusan saya ngasih tahu kalau Athletic Department lagi buka lowongan dan nyari tutor buat student athletes mereka. Honornya lumayan buat biaya makan sehari-hari dan jajan. Masalahnya nih, temen saya yang juga pernah jadi tutor buat mereka sempat wanti-wanti kalau saya harus ekstra sabar ngajarin mereka karena lumayan banyak dari mereka yang punya learning disabilities atau kesulitan dalam mempelajari sesuatu. Nah, saya kan jadi keder dengernya, apalagi ditambah stereotype atlet football di Amerika Serikat. Kabarnya, kebanyakan dari mereka bisa keterima di universitas hanya karena keahlian mereka di lapangan, tapi dari segi otak lumayan ndelosor.

Saya jadi inget jaman-jamannya saya ngajar di salah satu universitas swasta di Jakarta yang murid-muridnya lumayan beda kualitasnya sama murid-murid saya di UI. Duh, rasanya stres berat jelasin satu konsep sampai berulang-ulang kali dan mereka nggak ngerti juga. Sementara kalau jelasin konsep ke murid-murid di UI, sambil lari juga mereka ngerti… (mulai deh, muji almamater sendiri…) Eh, nggak selalu gitu juga sih… ada juga kok satu-dua murid yang lumayan pinter di universitas swasta tempat saya ngajar itu… tapi jarang.

Oke, inti dari tulisan ini adalah: butuh kesabaran yang banyak dan pemikiran yang taktis untuk bisa menjelaskan suatu ide atau konsep dengan semudah mungkin agar murid-murid yang punya mild learning disabilities bisa paham. Sebetulnya kalau dipikir-pikir, punya murid pinter itu memang enak di gurunya, ya? Mereka cepat tanggap dan biasanya punya inisiatif tinggi buat nyari informasi lebih lanjut. Ini sebenernya bikin gurunya jadi deg-deg-an, sih… karena tiba-tiba si murid sudah tahu lebih banyak tentang suatu subjek. Ah, dan ini bikin si guru yang nggak mau kalah jadi tertantang juga untuk belajar terus biar pengetahuannya makin luas.

***

Oke, balik ke topik awal… setelah wawancara dengan koordinator akademik di Athletic Department, saya pun lolos dan keterima jadi student-athlete tutor alias guru les-nya murid-atlet di CU Boulder. Di semester pertama jadi tutor, saya dikasih 9 murid. Delapan atlet football dan satu atlet tennis perempuan dari Spanyol. Saya yang tadinya grogi lihat murid-murid saya yang badannya gede-gede itu, lama-lama malah jadi akrab sama mereka. Dan sama kayak stereotype kebanyakan, nggak bener tuh kalau semua atlet football o’on. Males dan lemot iya, bloon sih nggak (loh, beda tipis, ya?) Tapiii, alesan mereka males sebetulnya sama aja sama mahasiswa kebanyakan, ya? Pengennya seneng-seneng dan kalau bisa nggak usah buka buku… bedanya, mereka tiap hari digempur sama latihan fisik dan macem-macem pertandingan, jadi nggak heran juga kalau biasanya mereka sudah kecapekan atau ngantuk pas giliran harus belajar.

Giliran jam tutoring sama saya, biasanya saya suka ngajakin mereka bercanda dan ketawa-ketawa… yang ujung-ujungnya, mereka malah suka curhat soal masalah pribadi. Bisa tentang pacar, guru yang nyebelin, atau kakak dan adek mereka di rumah yang suka ngusilin mereka. Biasanya kalau sudah curhat kelamaan (lebih dari 10 menit) suka saya potong, dan bilang “Iya, iya, saya ngerti kok kalau hidup kamu susah bin rempong… ayo sekarang belajar!”

Kadang saya suka gemes banget sih, kalau udah nerangin suatu konsep yang menurut saya gampang banget, tapi kok mereka nggak ngerti juga. Buntutnya saya jadi suka galak dan mulai marah-marah (kebiasaan jelek banget!). Murid-murid saya ini selalu tahu kalau saya sudah mulai nggak sabaran, dan mereka selalu nanggepin dengan santai… biasanya mereka diem dulu, terus coba ngulang penjelasan saya dan mastiin kalau interpretasi mereka betul. Saya suka nggak enak ati sama mereka. Belakangannya saya pasti minta maaf dan bilang, “Sorry if I pushed you too hard.” Mereka selalu jawab sambil senyum, “Nah, you’re good.” Mereka tahu kok, saya keras sama mereka karena saya pengen mereka sukses. Dan kalau setelah ujian mereka dapet nilai bagus, biasanya mereka datengin saya dengan muka girang dan bilang, “Hey, I got 85 on my test.” Dan senyum saya pun ikutan mengembang selebar senyum mereka.

Dengan Kekuatan Bunga…

Flowers from Greg
Rangkaian bunga dari si Kangmas. Kali ini dia yang pilih sendiri looh! Beneran. Suwer. Asli!

Saya suka banget sama bunga. Kalau perasaan lagi kusut dan hati lagi mendung, obat yang paling manjur buat memperbaiki mood adalah bunga. Berhubung saya lamaaa banget nggak punya pacar, dan sekalinya dapet pacar nggak suka ngasih bunga, saya sudah biasa banget beli bunga buat diri sendiri. Tentunya bunga-bunga murahan ya… macem sedap malem atau daisies atau carnation… pokoknya yang wangi atau cantik gitu deh warnanya!

Pernah nih, waktu mood lagi jelek banget, saya naik ojek ke tukang bunga langganan saya di seberang Hero Kemang, dan pilih-pilih bunga segala warna. Prinsip saya waktu itu: makin rame makin kece! Hasilnya, rangkaian bunga saya memang gonjreng. Sampe sahabat saya, Indra, yang waktu itu jemput saya ke rumah buat ngajakin nonton, komentar “Jeung, itu kenapa bunganya norak banget, sih?” Ih, kesel… Biarin dong, Ndra. Suka-suka gue, mau norak kek, mau gonjreng, kek… yang penting gue seneng! (Lah, kok jadi nyolot?)

Nggak lama setelah kejadian itu, saya harus berangkat ke Boulder, Colorado buat kuliah S3. Kebetulan si Indra nggak bisa ikutan nganterin saya ke bandara karena dia harus ngantor. Tapi dia sempet-sempetin loh, ngirim rangkaian bunga yang sungguh cantik (dengan lili dan mawar dan… ah, pokoknya keren lah!). Rupanya dia beli rangkaian bunga itu di Pacific Place, yang pasti jauh lebih cakep (dan lebih mahal!!) dari bunga yang biasa saya beli di pengkolan jalan Kemang. Di kartunya dia nulis kata-kata yang lumayan manis kalau buat ukuran Indra tentang semoga studi saya mulus di sana, dan di akhirannya dia tambahin: “Ps. Kalau beli bunga tuh yang keren kayak gini!” Hahahaha, antara kesel dan seneng campur aduk jadi satu. Emang si Indra itu sohib yang paling nyebelin sekaligus ngangenin saking nyebelinnya. Makasih ya, Ndra!

Di Boulder, saya sempat pacaran sama beberapa cowok, dan nggak satu pun di antara mereka yang hobi ngasih saya bunga meskipun saya jelas-jelas sudah bilang kalau bunga itu bikin hati saya senang. (Hellooo, mbok ya sadar dikit dan beliin pacarnya bunga…) Sampaiii, saya ketemu si Kangmas. Waktu pedekate, si Kangmas ini ngirimin saya bunga lewat pak pos setelah kita beberapa kali nge-date. Kemasannya gede gitu, dan bunganya warna-warni (tapi nggak norak yaa…) dengan vas yang cantik. U-huy! Saya seneeeng banget… (Pantes kan, kalau setelah itu diangkat jadi pacar?) Sejak kita mulai pacaran, dia juga rutin beliin saya bunga setiap dua minggu sekali. Kenapa dua minggu sekali? Karena biasanya bunga potong emang cuma segitu umurnya.

Setelah beberapa bulan pacaran, jiwa kurang ajar saya mulai keluar. Dari yang tadinya girang banget dikasih bunga, sekarang mulai mikir, “Kok bunga yang dia kasih kadang kurang sesuai selera saya, ya?” Mulai deh, hasrat-hasrat menghasut pun keluar. Kalau kami pergi ke supermarket bareng, dan dia tanya, “Kamu mau bunga apa?” Saya yang tadinya menjawab dengan manis, “Terserah kamu,” sekarang jadi lebih sering bilang, “Ah, saya mau yang ini dan ini!” Kalau dia bilang, “Kalau yang ini aja gimana?” Saya pun menjawab, “Nggak ah, mendingan yang ini!” (Sambil nunjuk yang lebih mahal dan lebih kece). Sampai suatu hari, pas kami ke Whole Foods, saya asyik-asyik aja pilih-pilih sendiri bunganya dan minta tolong si Mbak yang jagain bagian bunga untuk merangkainya dengan manis. Si Kangmas cuma senyum-senyum lihat tingkah saya yang kayak anak kecil di toko permen. Ah, Kangmas… aku padamu deh, kalau kamu baik hati begini!!

Salah Jurusan

Memmys Graduation
Di kampus UI tercinta bersama keponakan tersayang dan adik saya yang pintar di acara wisuda S2 dia (Juli 2014).

Dari masih SMA, saya selalu pengen masuk jurusan hukum waktu kuliah. Berhubung nilai kimia selalu merah dan berkisar antara 2,3 atau 4,5 dan nilai fisika cuma sedikit lebih baik (yah, 5 bisa lah…), begitu kelas 3 saya pun dengan semangat masuk ke jurusan IPS. Lumayan, nggak mesti sering-sering lihat angka, kecuali buat pelajaran akuntansi (yang juga sama blo’onnya). Waktu temen-temen segeng pada daftar kuliah keluar negeri, terus terang saya ngiri. Ih, pengen banget bisa ikutan sekolah keluar! Apa daya duit orang tua nggak cukup, yo wes… sekolah di dalam negeri aja.

Pilihan pertama sih, pengennya keterima di Hukum UI. Tapi berhubung peminatnya bejibun, saya jiper kalau nggak daftar sekolah cadangan. Kuliah di Bandung kayaknya seru, nih! Jadilah saya pun daftar ke jurusan Hubungan Internasional dan Hukum di Universitas Parahyangan. Asiiik, bisa jauh-jauh dari nyokap, numpang tinggal di rumah nenek di Dago, dan bisa pinjem mobil almarhum kakek buat dipake ke mana-mana sendiri!

Walaupun nyokap bolehin saya tes masuk UNPAR, dalam hati rupanya dia deg-degan juga, soalnya biaya uang kuliah di universitas swasta lumayan mehong ternyata. Emang sih, UNPAR nggak semahal Trisakti atau UPH, tapi teteplah bikin tabungan nyokap jebol kayaknya… Makanya, nyokap semangat nyuruh-nyuruh saya belajar UMPTN supaya bisa nembus universitas negeri, pan biaya kuliah per semester di UI cuma Rp. 500 ribu di jaman itu. Lumayan banget buat menghemat pengeluaran rumah tangga!

Waktu saya keterima di jurusan hukum UNPAR, nyokap mulai deg-degan, soalnya dia rada cemas saya bakal ogah-ogahan ikutan UMPTN karena udah keterima di fakultas yang saya pengenin dan di universitas yang saya taksir. Sebetulnya keterima di UNPAR itu membebaskan saya dari rasa khawatir nggak lulus UMPTN. Kan yang penting udah ada fakultas keren yang mau nerima saya… Tapi nih, tapi… waktu nenek saya tahu saya bakal tinggal sama dia di Bandung, belum apa-apa dia sudah wanti-wanti saya kalau “anak perawan itu nggak boleh keluar rumah lebih dari jam 9 malem.” Iiiih… langsung males, dengernya. Lah wong di rumah sendiri saya boleh pulang jam 12 malem kalau lagi malem Minggu, kok ini nenek saya malah semangat ngatur-ngatur harus pulang jam 9 malem. Nyokap senyum-senyum aja dengernya… “Hihihi, sukurin! Siapa suruh mau pindah ke Bandung!”

Di hari-H UMPTN, saya bulet-buletin (dan ngitemin) kode jurusan yang saya mau. Sesuai strategi yang saya dapet dari ikutan bimbel, jurusan yang saya mau ditaro di pilihan kedua, dan di pilihan pertama saya harus buletin jurusan lain yang passing grade-nya lebih tinggi dari jurusan yang saya mau. Setelah lama melototin buku panduan waktu ikut bimbel, saya sudah yakin kalau pilihan pertama saya adalah Psikologi UI, dan pilihan kedua saya Hukum UI. Saya pengen masuk jurusan Psikologi UI karena sepupu saya lulusan jurusan itu dan kayaknya dia menikmati banget kuliah di sana (alasan yang lumayan cetek). Sebetulnya saya juga mau masuk jurusan Komunikasi UI karena sepupu saya yang lain keterima di sana (dan kok terdengarnya keren kali jurusan itu…), tapi passing grade-nya seinget saya tinggi banget, cuy! Mending saya milih yang otak saya mampu aja deh… biar kesempatan buat lolosnya masih ada (biarpun tipiiiiiss…)

Malem sebelum hari pengumuman, saya inget telepon di rumah saya bunyi krang-kring-krang-kring di jam 10-an malem. Ih, sebel banget dengernya… Berhubung males keluar kamar dan angkat telepon, saya pun pura-pura udah tidur… Kali aja ada orang rumah yang mau angkat telepon berisik itu. Ternyata seluruh penghuni rumah pada males keluar kamar, alhasil nggak adalah yang ngangkat telepon itu. Pagi-paginya, nyokap sudah duduk manis di teras rumah dari jam 5 buat nungguin tukang koran lewat. Saya keluar ke teras jam 5.30 pagi, langsung sebel ngelihat si Mama. Abis udah jelas kelihatan kalau dia ngarep banget saya lulus UMPTN. Dalem hati saya mikir, “Ah, Mama… saya kan pengen kuliah di Bandung dan jadi anak gaul!” Hihihi….

Nggak lama, tukang koran pun lewat dan saya langsung ngembat korannya sebelum diembat nyokap duluan. Saya perhatiin deretan angka-angka yang bererot itu dan setelah lama banget saya pelototin, dengan muka sepet saya buang korannya dan bilang, “Nomorku nggak ada!” Terus masuk kamar dan banting pintu, deh. Abis, biarpun nggak pengen-pengen amat keterima UMPTN, tapi kan saya berasa bego banget nggak bisa lulus… Harga diri terluka dan terinjak-injak… Cih! (Biasa deh, hormon anak muda yang macam roller-coaster, semua langsung jadi drama!)

Tiba-tiba pintu kamar ngejeblak dan nyokap menyerbu masuk terus langsung lompat niban saya yang lagi ngambek sambil gegoleran di atas tempat tidur. Dia teriak “Kamu keterima! Kamu keterima!” dan mukanya giraaaaang banget!! “Heh?? Aku keterima? Kok bisaaaa???!!!” Saya pun takjub dengernya. “Aaaah, kamu tuh emang payah!! Baca yang teliti, dong!! Mama tadi cari satu-satu nomer kamu dan ini ada!!” Nyokap histeris, saya pun histeris… Horeeee, saya keterimaaa!! Lah, tapi di sebelah nomer saya tercantum kode yang saya nggak kenal. Ini kode jurusan apaaaa?? Saya kan udah hapal banget tuh sama kode jurusan psikologi dan hukum UI, tapi ini kok beda? Setelah buru-buru ngambil buku panduan UMPTN dan ngecek, ternyata itu kode jurusan Sastra Inggris UI. Heeeehhh??? Ngapain saya daftar Sastra Inggris UI? Kalau udah lulus mau jadi apa?? (Pertanyaan cemen yang berasa penting beneerr waktu itu). Saya langsung stress sendiri. Sementara itu nyokap udah nggak peduli. “Yang penting kamu masuk UI,” gitu kata doi. Kayaknya dia seneng banget nggak mesti stress mikirin biaya kuliah saya di Bandung. Dia pun langsung bersabda bahwa saya nggak boleh kuliah di tempat lain selain di UI. “Pokoknya Mama nggak mau tahu, kamu harus masuk UI atau bayar sendiri kuliah di Bandung.” Aaaah, saya jadi mau nangiiiis… Lenyap deh cita-cita jadi anak gaul di Bandung pengacara!

Siangan dikit, temen saya Dira telepon ke rumah. Rupanya dia yang tadi malem telepon. Dia dihubungi sama salah satu staff di tempat bimbel kami yang ngasih tahu kalau dia (dan juga saya) lulus UMPTN. Sepertinya pihak bimbel juga nelepon saya malem itu. Pantesan malem-malem kok heboh banget krang-kring-krang-kring, sementara yang di sini cuek bebek dan males ngangkat telepon. Ya, maap! Oh, dan ternyata Dira keterima di jurusan Hukum UI. Aaaaah, saya iriiii. Hehehehe, emang ya, nggak pinter banget ngucap syukur… bisanya siriiik, ajah!

 

The Red Swan Doctor

Kak Nurlan
This illustration of Kak Nurlan is taken from magdalene.co

Note: This post was published in 2013 on this website.

Meet dr. Nurlan Silitonga, 49, orKak (Sister) Nurlan, as she is affectionately called. She is the woman behind Angsamerah Clinic on Jl. Blora, Central Jakarta that specializes in sexual and reproductive health. I first found out about this clinic a few years ago through my best friend’s (then) boyfriend, who was just recently diagnosed with HIV and wanted to see a doctor who respected his privacy and did not judge him based on his sexual orientation. My friend, being a good boyfriend, accompanied him to Angsamerah Clinic and called me later on to rave about how great the clinic was. He knew that I was doing research on HIV/AIDS and thought that I should check it out.

Back then, after a series of “you’re not married yet, therefore we’re not going to touch you down there, let alone give you a pap smear,” I was pretty much done with ob-gyn in Jakarta. However, my friend’s raving had aroused my curiosity. I looked it up on the Internet and found a chic website with beautiful pictures of the clinic’s minimalistic interior style.

I was intrigued. I called to make an appointment and headed there a couple of days later. The clinic is indeed very discreet. It is on the second floor of a nondescript building with no sign, which made me hesitant initially. A woman sitting behind the receptionist desk greeted me warmly. She handed me a form and asked me to fill it in. I read it carefully and realized that there was no question about my marital status.

When she saw me reading the form without writing anything on it, the receptionist smiled and said, “You’re welcome to write a pseudonim if you’re not comfortable putting down your real name. There was a Mr. Brad Pitt here earlier.” I was tempted to write Beyonce PadThai but put my own name instead, but I do appreciate the gesture. It is hard for a sexually active single woman to find a good ob-gyn who does not judge her in Jakarta. It must be even harder for gay guys with sexually transmitted infections to talk openly about their sexual orientations and bedroom manners to their doctors.

Apparently, Nurlan had been in that position as well. She had had bad experience with health care providers who acted as moral police with the holier-than-thou attitude. Such experiences, and deep interest in public health, then led Nurlan to open Angsamerah Clinic. Graduated from the medical school at Universitas Kristen Indonesia in Jakarta, and with a master’s degree in public health from Sydney University, Nurlan began her career working as a researcher at Sulianti Saroso Hospital for infectious disease and Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2) Indonesia. She then spent over three years working as a physician at Timika and Kwamki Lama health centers in Papua, the eastern-most province that has among the country’s highest rates of HIV infection. Afterwards, she went on to be involved in a series of HIV programs in the country.

With the money she saved from working as a prison advisor for the AusAID project on HIV Program in Indonesia, she established Angsamerah Clinic. It doesn’t hurt to have a French husband to help with the architectural and interior design. Her private clinic only began operating in 2010, but the idea had come to her mind three years earlier. “I’m not a  tycoon, so I had to save my money carefully and wait patiently to open this one. I’m glad I did. This has been my long-term dream,” Kak Nurlan told me as we were having lunch together.

She picked the name Angsamerah, meaning red swan in Indonesian, because white swan is not special, while black swan has dark connotation, she said. Red swan for Nurlan is different, daring but still elegant. Slim and a bit frail looking, she radiates positive energy and projects a generous soul who loves challenges. When I told her that I am a trained volunteer at Boulder County AIDS Project in Colorado, U.S, she looked at me with a mild interest. I said I would love to be a volunteer at Angsamerah and asked what I could do to help, but she asked me back, “What do you want to do for yourself that could be beneficial for Angsamerah?” I was taken aback by her question. I was so used to other people telling me what to do when it comes to volunteering that I had to stop and think for a moment. I honestly couldn’t think of anything, but I told her I would let her know as soon as I could think of an idea. She nodded.

We’ve met a couple of times after that before I had to go back to Boulder. I came to her with an idea of what I wanted to do, and she was very supportive. She asked many critical questions and challenged my idea, but her questions were meant to shape and strengthen it and not to diminish it. In the end we talked about how we could translate it into reality by making a step-by-step plan and a timeline. The whole conversation felt good to me. I felt like I was in charge of a project that would not only be beneficial to Angsamerah, but also to others and to me.

“I enjoy being a mentor. It gives me great pleasure to see my mentee succeed. I understand there are people who are afraid of sharing their knowledge and expertise because they feel threatened or they’re too afraid of losing their position or power. I personally think that’s wrong,” she said.

This past summer when I went back to Jakarta I paid her a visit, she told me about the second clinic that was going to open its door to more clients on Jl. Panglima Polim, South Jakarta. “It will have the same feeling to this one, and it will provide the same service too, only it is run under Yayasan Angsamerah, so it is going to be more affordable,” she said. That’s great news, especially for those who cannot afford to spare Rp 300,000 per visit. The new clinic has been running for more than three months now and I have no doubt that it will continue to provide reproductive health care services to everyone, whether he or she is gay, transgender, a sex worker, or a single woman like me.

www.angsamerah.com
Graha Media Building, 2nd Floor, Jl. Blora 8-10
Menteng, Jakarta Pusat 10310
+62 21 3915189